.

WELCOME TO

Mixedfighting.blogspot.com , where fans and fighters of Mixed-Martial Arts in Indonesia meet and share anything about MMA Sport. You can give your comment, opinion, or even rumors on MMA here! The blog mostly contains about MMA, however it is also available for those interested in Traditional Martial Arts as Silat, Karate, Kungfu, Tae kwondo, Thai Boxing, Aikido, Jiu-jitsu, wrestling , Judo and any other form of martial arts. If you are interested and want to contribute to the blog, please feel free to contact us by sending e-mail to Blog Admin, and soon we will send you a blogger invitation.

"Train smart, blog hard!"

FROM ADMIN

Blog MMA ini didedikasikan kepada seluruh penggemar olah raga beladiri MMA - khususnya, dan beladiri tradisional pada umumnya di tanah air, dari para atlet, guru, pelatih maupun mereka yang hanya sempat duduk di kursi penonton.
Kami mengundang setiap insan beladiri untuk saling berbagi di sini.

"Suwer deh, this blog is useless without you .....!"

Terima kasih
Blog Admin ***** MARHABAN ya ramadhan, mohon dimaafkan segala khilaf dan salah. Semoga ibadah ramadhan kita diterima oleh Allah SWT dan diampuni dosa2 kita semua. Amin.***** BEST VIEW WITH MOZILLA FIREFOX BROWSER : Welcome to Indonesian Community of Mixed-Martial Arts ..... Mixedfighting.blogspot.com ! [Best Screen Resolution 1024 x 768]

The Beginning – 1

⊆ 5:50 PM by Innama | . | ˜ 7 comments »

Telah Laku Terjual: Kekerasan di Televisi”.

Ini adalah judul sebuah artikel yang pernah dimuat di sebuah harian nasional pada tanggal 28 Maret 2003, yang mengomentari ditayangkannya acara reality show MMA pertama di Indonesia, TPI Fighting Championship. (Catatan : UFC disiarkan pada Januari 2002, menyusul kemudian Pride FC (April 2002) dan TPIFC (Juni 2002). Betapa sebagian masyarakat kita terkesan seakan-akan menolak hadirnya program tersebut. Mereka bahkan mem-banding2kannya dengan tayangan2 kriminal yang notabene hanya menjual kekerasan dan “darah” seperti “Patroli”, “Jejak Kasus” (Indosiar), “Derap Hukum” (SCTV), “Sergap” (RCTI), “Buser” (SCTV), “Kriminal” (TransTV), dan “TKP” (TV7) dll, dsb. Belum lagi resistensi yang timbul dari kalangan lembaga dan pelaku bela diri di tanah air itu sendiri, semakin menyesakkan jalannya acara ini untuk dapat berkembang. Respons masyarakat ternyata beragam. Apapun alasan dan latar belakangnya, hanya ada dua golongan saja : menerima dan tidak.


Jujur, saya termasuk di dalam kelompok ke dua. Menolak acara tersebut. Alasannya? Jelas sekali. Pertama, saya bukan pelaku bela diri dan tentu saja sangat anti kekerasan. Jangankan melihat orang dipukul, membunuh semut-pun tidak tega. Ke dua, saya mengkhawatirkan acara tersebut akan membuat orang semakin beringas dan penuh dendam dalam skala nasional. Kita sama2 tahu, budaya kolektif dalam dunia persepakbolaan negara ini hampir selalu diwarnai dengan suguhan perkelahian yang menjurus ke tawuran massal dan kerusuhan seusai kompetisi. Nonton bola, bonus tinju! Lha kalau nonton “tinju” (baca: MMA) bonusnya kan tidak mungkin bola, pasti ya tinju2 juga….!

Namanya manusia, bilang tidak suka ternyata malah ngintip2. Bilang benci tetapi rindu. Yang nulis artikel inipun ternyata juga begitu. Walau anti kekerasan tapi sering penasaran. Nonton pertama kali, kepala pusing dan mual2. Nonton ke dua kali, sepertinya asik juga. Nonton ke tiga kali, jadi timbul kedekatan. Akhirnya jadi nonton ber-kali kali! Buah dari nonton UFC, PFC maupun TPIFC adalah kursi yang pada copot akibat menahan ketegangan saat melihat petarung beradu pukulan. Satu hal yang dapat saya katakan, saya melihat semangat, kehormatan dan sportifitas yang begitu tinggi disuguhkan oleh para petarung di ring. Tak ada dendam dan sakit hati (paling tidak begitu yg saya saksikan). Selesai gebuk2an mereka saling berpelukan dan berangkulan bahkan “berciuman”. Tak ada istilah “kalah di ring lanjut di jalan”. Saya bahkan sempat ber-angan2 seandainya saja negeri ini dipimpin oleh para pemimpin yang berjiwa ksatria macam petarung2 ini, betapa rakyatnya akan sangat “sejahtera”. Lho apa hubungannya? Tidak ada! Pikirkan saja, jika orang yang memimpin kita memiliki kehormatan, harga diri dan sportifitas yang tinggi. Pasti kita akan dengan rela mengikutinya. Namun jika sebaliknya, hanya sumpah serapah yang akan keluar dari mulut kita. Betul?

Ternyata acara TPIFC akhirnya membuat saya mabuk dan kecanduan. Badan gatal2 jika melewatkan tontonan yg satu ini. Tak cukup hanya menonton setiap Jumat malam, akhirnya minta bantuan teman untuk merekamnya agar bisa diputar keesokan harinya. Sudah cukup? Ternyata belum. Masih penasaran ingin nonton langsung ke studio. Tapi bagaimana caranya? Entah kebetulan atau memang sudah jalannya ( halah … kayak ngapain aja!) sebuah email balasan dari Pak Ali Mahmudin (TPI) mengajak saya untuk menonton langsung ke studio. Sekalian membuktikan bahwa acara ini bukanlah seperti yang saya “tuduhkan”. Dari sini cerita bermula.

Saat itu pertama kali saya melakukan kontak dengan para pelaku bela diri. Sebuah dunia baru yang membuka mata. Anggapan selama ini bela diri hanya “identik” dengan premanisme ternyata salah total! Orang pertama yang saya kenal – tentu saja – adalah Aji Susilo. Kemudian Pak Syarif Samsudin dari Klub Tigershark, dan tentu saja Dedi Hermawan yang belakangan rajin memberi info serta masukan buat blog tercinta ini.

Di luar hiruk pikuk TPIFC, saya berangan-angan kenapa tidak dibuat satu media atau wadah bagi para penggemar TPIFC agar bisa berkomunikasi dengan para atlet maupun sesama penggemar. Website TPIFC yang tadinya menjadi tumpuan dan satu2nya harapan akhirnya lenyap ditelan bumi. Masih untung ada “orang gila” lainnya (selain saya tentunya) yang membuat mailing list TPIFC, yaitu rekan Perindoe (bos, siapa sih namamu sebenarnya? Masak di jaman anti “keyboard fighter” begini masih belum dikasih tau ke kita?). Lalu disusul kemudian oleh rekan Gauz (Agus) dengan website MMA nitnot-nya. Belum puas dengan yang ada, akhirnya saya “berguru kilat” kepada seorang “photoshop fighter” bernama Edwin. Beliau inilah yang selalu membantu saya tanpa pamrih. Darinya saya juga akhirnya keranjingan membeli buku2 tentang membuat dan mendesign sebuah web (dari “frontpage” sampai “dreamweaver”, dari “photoshop” sampai “indesign”), suatu hal yang tidak pernah saya bayangkan (dan sampai hari inipun masih gak bisa2…… emang enak!).

Singkat kata, jadilah website mma kita ini. Namanya “mixedfighting Indonesia”. Gratisan dari Geocities.com. Tidak puas dengan layanan geocities (gratis kok mau puas?) karena harus meng-upload gambar satu-satu, akhirnya web saya redirect ke web lainnya, yaitu www.innaz.com . Yang ini bayar domain dan hosting setiap tahun. Hasilnya lumayan, tak perlu stress lagi, karena upload dilakukan dengan system FTP. Semua gambar tinggal di-blok dan di-drag untuk masuk ke web. Asik juga. Saya sempat menerima beberapa email dari para pengunjung. Dan yang paling berkesan tentu saja email dari Pak Bryson Keenan yang membuat saya semakin bersemangat dan mengenal pernik2 bela diri di tanah air. (Halo pak Bryson di mana anda sekarang…?). Beliau adalah seorang consultant dari Australia dengan latar belakang bela diri Judo, Karate serta Kickboxing. Beliau juga anggota FUKASEBA dan pernah tinggal di Jogja pada tahun 1996. Saat acara Duel ditayangkan di RCTI, Pak Bryson sering nongol di sana. Terakhir beliau ikut berlatih di Synergy Jiujitsu. Sayang beberapa kali email saya akhir2 ini tidak dibalasnya. Mungkin sedang sibuk atau emailnya sudah ganti. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas perhatiannya. Atau jangan2 beliau jadi kecewa setelah tahu bahwa saya hanya seorang “photoshop fighter”….. ! No, just kidding.

Email lainnya datang dari Jim Cryan (MMA Review). Yang ini tentu saja setelah saya mengirim email duluan ke website beliau. Saya suka MMAreview karena gaya reviewnya yang sangat matematika dan detail. Sayang website ini harus tersungkur karena bangkrut. Saat itu beliau juga pernah mengemukakan tentang hal ini. Tetapi tak disangka akhirnya terjadi juga. Dunia MMA (dan MA pada umumnya) sangat membutuhkan orang seperti beliau2 ini yang tanpa pamrih menyumbangkan kebisaan yg dimilikinya demi kemajuan MMA.

Akhir kata, terima kasih saya ucapkan kepada Ali Mahmudin (gimana kabarmu mas? Masih sibuk dengan KDI opo API?), Edwin, Aji Susilo, Bokie dan tentu saja Dedi Hermawan.

Least but not last (he he he ... kebalik ya ...?), blog ini dibuat tidak untuk “menyaingi” website martial arts yang ada, namun sebaliknya, untuk melengkapi dan meramaikan suasana. Agar lebih seru. Dengan tampilan yang tentu saja sangat “penonton”. I’m just “photoshop fighter”. Itupun “beginner” alias masih di “entry level”. Semoga blog ini bisa menjadi pintu atau jendela bagi para penggemar MMA di Indonesia untuk saling berbagi. Menjadi pintu atau jendela menuju dunia martial arts lainnya melalui link2 yang ada di dalamnya.

Jangan lupakan, salah satu Motto blog ini adalah : “Kalau semua turun ke matras, lalu siapa yang ambil gambar-nya?”

Next on “About Mixedfighting” : MMA_Lover


Blog Rank : 196 of 3170

⊆ 4:17 PM by Innama | . | ˜ 1 comments »

Ini adalah posisi atau ranking blog mixedfighting dalam daftar blog-indonesia bulan Maret 2007.



"POTENT"

"MMA : TEKNIK, PRINSIP & METODA LATIHAN"